Berikut ini penjelasan secara singkat tentang sejarah berdirinya islam liberal di Indonesia
Setelah berdiskusi sekian lama pada
akhir 1999 Ulil dan kawan-kawan sepakat memperkenalkan serta
mengkampanyekan pemikiran mereka dengan bendera Islam Liberal. Lalu
untuk mengintensifkan kampanyenya mereka membentuk wadah Jaringan Islam
Liberal (JIL) pada Maret 2001.
Jauh sebelum wacana Islam liberal—yang akan melahirkan Jaringan Islam Liberal—muncul pertama kali dalam bentuk mailing list
di islamliberal@***groups.com pada tahun 2001, istilah Islam liberal
sendiri muncul pertama kali waktu Greg Barton menyebut istilah itu dalam
bukunya, Gagasan Islam Liberal di Indonesia (Paramadina: 1999). Mailing list Islam
liberal yang muncul dua tahun setelah itu, ternyata, mampu bertahan
lama dan menjadi wadah diskusi yang aman antara mereka. Dari
diskusi-diskusi yang terjadi, tergagaslah keinginan untuk membentuk
suatu wadah yang bernama Jaringan Islam Liberal.
Dengan ditunjang kucuran dana dari
Asia Foundation kampanye Islam liberal gencar dilancarkan melalui
berbagai cara. Mulai dari forum kajian dan diskusi, media cetak hingga
media elektronik. Media internet juga tak ketinggalan mereka garap.
Mula-mula dengan membuat forum diskusi internet (mailing list) yang
tersebut diatas, kemudian dilanjutkan dengan membuat situs web,
alamatnya www.***lib.com.
Kampanye lewat media cetak dilakukan
sangat gencar. Selain melalui majalah seperti Tempo dan Gatra, JIL
mendapat porsi publikasi besar di koran Jawa Pos dan 40 koran daerah
yang tergabung dalam Jawa Pos-Net. Dengan nama rubrik Kajian Utan Kayu,
setiap hari Ahad JIL mendapat jatah satu halaman penuh untuk diisi
tulisan para pengusung ide Islam liberal, antara lain Nurcholish Madjid,
Azyumardi Azra, Jalaluddin Rakhmat dan Masdar F Mas’udi.
Kampanye melalui media elektronik mula-mula cuma disuarakan melalui kantor berita radio 68H yang mengudarakan dialog
interaktif setiap Kamis sore. Belakangan siaran itu kemudian di-relay
oleh tak kurang 15 stasiun radio se-Indonesia yang tergabung dalam
jaringan 68H, sehingga dapat disimak oleh para pendengar dari Aceh
hingga Manado. Di Jakarta siaran JIL di-relay oleh stasiun radio dangdut
Muara FM.
Adapun istilah Islam liberal dipilih
oleh kalangan JIL untuk menamakan gerakan dan pemikiran mereka,
nampaknya lantaran mereka mendapat insipirasi dari buku Liberal Islam: A
Sourcebook karya Chares Kurzman (edisi bahasa Indonesia berjudul Wacana
Islam Liberal: Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-isu Global,
diterbitkan oleh Paramadina), sebab dari buku itu pula JIL meminjam enam
agenda rumusan Charles Kurzman. Enam isu itu: antiteokrasi, demokrasi,
hak-hak perempuan, hak-hak non-Muslim, kebebasan berpikir dan gagasan
tentang kemajuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar